Ayah itu Pamrih
Ayah itu pamrih, katanya lirih dalam hati. Yach! saya bisa menebaknya, saya salah satu teman terdekatnya, kuantitas pertemuan kami memang sedikit, tapi kualitas yang kami pertahankan tetap ada.
Panggil saja dia S, kehidupannya bak sinetron, ditinggal seorang ayah saat masih kecil, adiknya usia 2 tahunan saat itu. Ibunya sebaya dengan ibu saya, kelahiran 60-an akhir.
Membahas urusan dan kisah pribadinya tak akan cukup di waktu yang sempit ini, maklum kejar tenggat, banyak urusan yang belum terselesaikan.
Kami sama sama teman satu gereja, melayani di gereja yang kecil di daerah selatan kota Surabaya, gereja kami ada di dalam kompleks perumahan, suasananya nyaman, kami tumbuh bersama di sana.
Saya melayani hanya di bidang perlengkapan saja, urusan Komputer, tidak ikut main musik, tidak ikut menyanyi dsb, hanya perlengkapan saja, yang semakin lama maknanya bergeser menjadi alat penggerak massa, iya betul, alat penggerak massa, karena keterdekatan saya dengan beberapa anak kaum muda gereja saya. Tentunya bagian IT masih saya pegang, itupun hanya kadang kadang saja.
Lain saya lain lagi dengan S , dia aktif melayani di Sekolah Minggu, Musik, Singer dan Vokal Group, awalnya tidak pernah ada masalah dengan pelayanan si S, sampai akhirnya masuk ke jenjang Kuliah.
Kuliah baru, kampus baru, motor baru, HP baru dan beberapa benda lain pun di berikan kepada si S, yupe, pemberian dari si ayah. Awalnya tidak ada apa apa, sampai beberapa minggu berselang. S tidak lagi aktif di gereja, dulu dia setia datang hari Sabtu maupun Minggu, sekarang? ah.. bisa datang itupun sudah bagus, ada beberapa lubang di absensinya, tentunya itu bukan kabar yang mengenakkan.
Selang beberapa waktu, lambat laun hal itu jelas duduk perkaranya, sesuatu yang disembunyikan S, ternyata di balik setiap pemberian ayah, ada maksud tersembunyi. Maksud itu adalah sebuah tujuan, agar si S tidak lagi melayani di gereja tempat kami tumbuh dan besar.
Di perlukan beberapa waktu untuk merenungkan hal itu, mungkin dapat membuat pikiran si ayah berubah. Tetapi? hal itu tak kunjung berubah, malah menjadi semakin buruk saja, tepatnya saat kami pergi pelayanan di GPPS Tuban 2 minggu lalu.
Karena kesibukan saya, saya tak mengetahui perkembangan terkahir dari si S, tetapi Minggu kemarin, si S telah mengambil keputusan, dia tak lagi naik motor, semua pemberian ayah yang menjadi beban di pundaknya, belenggu di kakinya dia tanggalkan semua. Ia kini pribadi yang bebas, bebas untuk memilih bahwa pelayanan, gereja dan teman temannya adalah sebagian dari hidupnya yang tidak bisa dipisahkan darinya.
Bukankah kebaikan akan menemukan jalannya? Bukankah Tuhan bekerja dengan cara dan jalan yang misterius? Seperti langit dengan bumi, begitulah jalan dan rancangan Tuhan terhadap pemikiran kita? Pasti. Amin.